4 Desember 2022

Nadiem Akui Vaksinasi Guru Belum Capai 50 Persen – surabayapostkota.net

Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbud Ristek) Nadiem Makarim mengakui hingga memasuki pekan terakhir Agustus, laju vaksinasi Covid-19 terhadap guru dan tenaga kependidikan belum mencapai 50 persen.

Nadiem pada Juni lalu, diketahui kembali memundurkan target vaksinasi hingga Agustus untuk 5,6 juta guru dan tenaga kependidikan. Keputusan itu menjadi yang kedua setelah ia juga memundurkan pada Mei. “Sebentar lagi kita akan mencapai 50 persen, daripada semua tenaga pendidik, itu sudah divaksinasi. Jadi itu, sedikit di bawah,” kata dia dalam rapat kerja di Komisi X DPR, Rabu (25/8). Meski begitu, Nadiem mengatakan dalam sepekan ke depan laju vaksinasi kepada guru dan tenaga pendidik akan mencapai 50 persen, baik untuk dosis satu maupun dua.

Mantan bos Gojek itu menyebut target vaksinasi tidak akan tercapai tanpa alokasi dan bantuan dari pemerintah daerah. Dia mengapresiasi Kementerian Kesehatan dan Satgas Covid-19 yang dinilai akan berkomitmen untuk mengejar target vaksinasi kepada guru. Nadiem menyebut vaksinasi kepada guru akan menjadi perhatian Kemendikbudristek. Dia mengakui, laju vaksinasi di beberapa daerah masih cukup tertinggal. Namun, percepatan kata dia akan terus dilakukan seiring pembelajaran tatap muka yang akan segera dibuka.

“Memang ada beberapa yang ketinggalan tapi itu akan menjadi komitmen kami bersama pusat untuk terus memprioritaskan guru dan tenaga pendidikan, agar PTM terbatas itu seaman mungkin,” kata Nadiem. Sementara itu, merujuk data Kemendikbudristek hingga pertengahan Agustus, angka vaksinasi terhadap guru untuk dosis satu baru mencapai 40 persen, dan 30 persen untuk dosis dua. Dan pada siswa, dosis satu baru 2 persen, dan kurang dari 1 persen untuk dosis kedua.

Ketua Komisi X DPR dari fraksi PKB, Syaiful Huda sebelumnya mengaku pesimis dengan target vaksinasi guru di bawah Kemendikbudristek. Ia menyebut Kemendikbudristek tak memiliki strategi apapun, dan terkesan pasrah terkait hal itu. Menurut Syaiful, kebijakan Kemendikbudristek terkait PTM tampak kontradiktif. Sebab, di satu sisi, mereka mendorong belajar tatap muka dipercepat, namun tak dibarengi dengan percepatan vaksinasi. Terlebih, baik DPR maupun pemerintah sama-sama tak memiliki opsi untuk kembali menunda PTM.